Minggu, 29 April 2012

"KHALIFAH"; DALAM DALIL NAQLI

A. PENDAHULUAN                                            
Wacana kepemimpinan merupakan wacana yang lumrah di tengah masyarakat. Kepemimpinan merupakan sebuah keniscayaan, sebab sesuai realita yang terjadi, manusia yang tergabung dalam suatu perkumpulan baik itu dalam skala kecil maupun besar akan membutuhkan sosok seorang pemimpin. Tanpa adanya pemimpin, maka struktur dan aturan main suatu perkumpulan sulit dirumuskan dan dilaksanakan. Akibatnya tujuan dari perkumpulan tersebut tidak akan bisa terwujudkan. Sementara manusia merupakan salah satu makhluk sosial yang akan membutuhkan kelompok agar bisa mengakomodir kebutuhan-kebutuhan sosial mereka.
Pentingnya pemimpin dan segala aspeknya membuat wacana ini merupakan wacana yang penting, sehingga menjadi salah satu pembahasan pokok dalam ajaran Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Hal ini bisa diteliti dari dalil-dalil naqli yang membahas kata "pemimpin" baik secara eksplisit yang diwakili dengan kata "imam", "awliya'", "ulul amri", "khalifah". Ataupun dengan kata-kata yang secara implisit membahas tentang kepemimpinan.
Dalam tulisan ini, dikumpulkan beberapa dalil naqli yang secara eksplisit membahas tentang pemimpin dengan term "khalifah" beserta beberapa turunan katanya. Pada beberapa ayat dituliskan segi tafsiran menurut Abu Bakar al-jazairi dalam kitabnya Aysar at-Tafasir, mengingat banyaknya ayat-ayat tersebut, sehingga hanya ayat-ayat yang dianggap penting yang bisa dijelaskan berdasarkan penjelasan al-Jazairi dalam tafsiran yang ringkas sesuai dengan judul tafsir beliau.
B. PENGERTIAN KATA "KHALIFAH"
     Kata khalifah, merupakan bentuk isim fa'il (pelaku) dari akar kata khalafa-yakhlufu, yang memiliki beberapa pengertian; mengganti, memberi ganti dan  menempati tempatnya (dalam kamus al-Munawwir, halaman 362). Kata khalifah sendiri berpengertian: pengganti atau penguasa.
     Dalam al-Qur'an, setidaknya ada beberapa kata yang merupakan turunan (derivasi) dari akar kata khalafa-yakhlufu. Semua dari kata itu memiliki makna yang berbeda namun makna kata tersebut tidak keluar dari makna secara bahasa yang telah kami jelaskan sebelumnya:
C. AYAT-AYAT AL-QUR'AN.
1. Kata "khalifah".
Terdapat pada firman Allah surat al-Baqarah : 30, yang berarti "penguasa"

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (30)
30.  Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." [QS.al-Baqarah:30].
Segi Tafsiran:
Abu bakar al-Jazai'iri dalam kitabnya Aysar At-Tafasir memberikan tafisran bahwa yang dimaksud dengan kata khalifah secara kebahasaan dalam ayat tersebut adalah "man yakhlufu ghairahu" orang yang menggantikan selainnya, sementara orang yang dimaksud adalah Adam As. Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa khalifah yang nanti diutus ke bumi adalah orang yang akan memberlakukan hukum-hukumnya. Sedangkan pertanyaan malaikat yang terkesan meyangsikan keputusan tersebut, itu berdasarkan kekahwatiran mereka akan khalifah yang nantinya akan berbuat kerusakan di bumi dengan kekafiran dan kemaksiatan. hal ini mereka qiyaskan dengan jin yang telah berbuat hal-hal yang para malaikat takutkan tadi. Selain itu, ayat ini juga ingin menunjukkan atas wujud kekuasaan, pengetahuan dan kebijaksanaan Allah yang wajib dipercayai oleh para hambanya[1].
juga terdapat pada firman Allah, surat Shaad : 26.
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ (26)

26.  Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah Keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan. (Shaad: 26)
Segi Tafsiran:
Ayat di atas merupakan keberlanjutan kisah nabi Daud dari ayat-ayat sebelumnya. Setelah nabi Daud diampuni oleh Allah (lihat ayat sebelumnya). Allah memerintahkan Daud untuk menjadi pengganti nabi-nabi sebelumnya, sebagai orang yang mengurusi urusan-urusan manusia dimana beliau dituntut berhukum secara adil sesuai syariat Allah dan hal-hal yang diridhai-Nya. Nabi Daud yang menjadi pengganti nabi sebelumnya juga dituntut untuk tidak mengikuti hawa nafsunya, karena jika mengikuti hawa nafsu maka nafsu tersebut akan menyesatkan Daud dari jalan Allah. Berdasarkan ini, maka sesungguhnya hukum yang diaplikasikan dengan syariat ilahiah, tentunya akan memelihara dan mengatur secara tertib kemashlahatan dan memberikan manfaat pada kebaikan baik bagi umum maupun kebaikan-kebaikan khusus[2].
2. kata "khalaaifa", terdapat pada surat al-An'am : 165 yang juga memberi pengertian penguasa.

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (165)
165.  Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-An`am;165)
Segi Tafsiran:
Ayat ini merupakan ayat terakhir pada surat al-An'am yang kesemua ayat tersebut merupakan hujjah bagi orang-orang yang melaksanakan keadilan Allah dan penjelasan jalan hidayah agar mereka dapat beriman, bertauhid dan berislam. Dalam ayat ini Allah ingin menegaskan kemaha kuasaanNya atas hari pembalasan, dimana Allahlah yang berkuasa mengganti manusia yang telah mati dengan manusia yang akan hidup nantinya. Manusia yang akan hidup tersebut, akan menjadi pewaris dari yang telah mati, dan setelah menjadi pewaris, mereka pun akan mati dan mewarisi. Makna firman Allah "dan Allah akan mengangkat sebagian diatas sebagian yang lainnya dengan beberapa derajat" maksudnya bahwa Allah akan menjadikan sebagian manusia kaya dan sebagian lainnya miskin, sebagian sehat sebagian sakit, sebagian pintar sebagian bodoh. Hal itu dikarenakan Allah ingin menguji manusia atas apa yang telah diberikanNya, Dia akan melihat dari hambaNya, yang mana yang mampu bersyukur dan yang mana yang kufur. berdasarkan itu, Allah akan mengazab manusia yang berhasil diuji, memberikan rahmat bagi hamba-hamba yang sukses dan mengazab hamba-hamba yang gagal.[3]
Juga terdapat pada surat Yunus : 14, yang berarti pengganti
ثُمَّ جَعَلْنَاكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ مِنْ بَعْدِهِمْ لِنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ (14)

14.  Kemudian kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. Yunus;14
Segi Tafsiran:
Ayat ini berbicara mengenai para pemuka kafir Mekkah. Allah memberitahukan –melalui lisan NabiNya- bahwa Allah menjadikan mereka pengganti atas orang-orang terdahulu yang Allah binasakan. Agar Allah bisa melihat, jika mereka mengerjakan amalan yang baik, maka Allah akan membalas mereka dengan kebaikan, namun jika berbuat jelek, maka Allah pun akan memberikan balasan yang buruk. Dan hal ini telah menjadi sunnatullah yang berlaku[4]
Juga terdapat pada surat yang sama, ayat : 73, yang berarti pemegang kekuasaan:
فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ (73)
73.  Lalu mereka mendustakan Nuh, Maka kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. Qs. Yunus 73
Segi Tafsiran
Ayat ini mengisahkan bahwa, Allah menyuruh Rasulullah saw menceritakan sebagian dari kisah Nuh bersama orang-orang musyrik yang keadaan mereka itu sama dengan kaum musyrik arab. Terdapat dua faidah dalam kisah Nuh yang Nabi ceritakan: yang pertama, hiburan buat Rasulullah yang menghadapi keras kepalanya kaum musyrik dan diperintahkannya beliau untuk senantiasa bersabar. Yang kedua: penjelasan terhadap kekeliruan orang musyrik dan peringatan, jika mereka masih senantiasa pada kemusyrikan dan kemaksiatan maka halal bagi mereka mendapatkan azab.' Kisah tersebut menceritakan bahwa setelah nabi Nuh berdakwah pada umatnya dengan masa yang tidak cepat, umatnya masih saja menolak dakwah tersebut, hingga pada puncaknya Allah mengazab mereka, menolong orang-orang yang  mau beriman dan ketika orang-orang yang durhaka itu tenggelam, Allah memberi kekuasaan pada orang-orang yang beriman. Makna "tenggelam" pada ayat ini, tidak hanya tenggelam di dunia, namun juga pada saatnya Allah akan menenggelamkan orang-orang durhaka itu kedalam neraka.[5]
Juga terdapat dalam surat Fathir : 39, yang sama artinya dengan kata khalifah.
هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِلَّا مَقْتًا وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلَّا خَسَارًا (39)
39.  Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. barangsiapa yang kafir, Maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. qs. Fathir;39)
Segi Tafsiran
Ayat di atas memiliki keterkaitan dengan ayat sebelumnya, dimana Allah menerangkan tentang balasan pedih bagi orang-orang kafir. Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Ia akan mengganti orang-orang yang telah meninggal, dan bagi orang-orang yang menjadi pengganti harus mengambil ibrah, pelajaran atas umat-umat yang terdahulu. Setelah itu, Allah pun menerangkan bahwa siapa yang masih kufur maka dia akan mendapatkan balasan sebagaimana umat-umat terdahulu. Allah pun memberitahu bahwa tidak akan diberikan bagi orang kafir kecuali jauh dari rahmat dan mendapatkan kemarahan Allah yang keras. Maka tidak lah orang kafir itu, kecuali orang-orang yang kufur[6]
3. kata "khulafa". Terdapat pada Al-A'raf : 69, yang artinya pengganti yang berkuasa
أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَى رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (69)
69.  Apakah kamu (Tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan Telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.(QS. al-A`raf 69)
Juga pada surat yang sama dengan arti yang sama, pada ayat 74
وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ (74)
74.  Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. Qs. Al a’raf : 74
Dan pada surat an-Naml : 62 yang sama artinya dengan kata khalifah
أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (61)
62.  Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi[1104]? apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). al-Naml;62).
Segi Tafsiran
Ayat ini merupakan salah satu argumen untuk menguatkan pernyataan sebelumnya, bahwa Allah lah Zat yang lebih baik, lebih kuat, lebih mampu dan lebih segala-galanya dibanding apa yang disekutukan manusia bersamaNya atau bahkan selainNya. Allah mengingatkan kita bahwa dialah Satu-satunya Zat yang mampu memenuhi permohonan-permohonan orang yang dirundung kesulitan, satu-satunya Zat yang mampu menghilangkan kesusahan berupa sakit, kelaparan , kehausan dan paceklik, Dialah Zat yang menjadikan manusia khalifah (penguasa dibumi ini). Allah yang mengganti satu generasi dengan generasi berikutnya, lalu Allah mengajukan pertanyaan yang sebenarnya adalah peneguhan bahwa "tidak ada sesembahan yang  patut disembah melainkan Allah". Pada akhir ayat, Allah juga mengingatkan bahwa banyak orang yang hanya mengambil sedikit pelajaran dari segala yang dilihat, di dengar dan ia pikirkan dari segala bukti-bukti yang ada untuk mengingat Allah swt[7]
4. kata istakhlafa-yastakhlifu. Terdapat pada surat an-Nur : 55, yang berarti menjadikan berkuasa
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (55)
55.  Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (QS. al-Nur;55,)
Segi Tafsiran
Ayat ini menggambarkan bahwa Allah menjanjikan bagi orang-orang yang membenarkanNya dan rasulNya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan kebajikan dan mencegah dari yang mungkar, Allah akan menjadikan mereka khalifah di bumi, menjadi penguasa yang adil dan bijaksana bagi keluarga dan kaum mereka, menjadi sumber kebahagiaan di rumah-rumah mereka, seperti Allah menjadikan Bani Israil penguasa atas al-Quds (yerussalem) setelah kaum Kan'an dan 'Ammalaqah. Allah juga menjanjikan pada mereka kemenangan agama Islam, kemudian akan dijaga dan dipelihara dari upaya perubahan, penggantian dan pelenyapan hingga waktu yang telah ditentukan (hari kiamat). Allah juga menjanjikan memberikan rasa aman bagi mereka orang-orang muslim yang ketika itu memang mengalami ketakutan yang sangat saat berhirah ke madinah; kekhawatiran terhadap kekejaman orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Semua janji itu memang layak buat orang-orang beriman dimana Allah kembali memuji mereka dengan berfirman "merekalah orang-orang yang menyembahku dan tidak menyekutukan Aku". Pada akhir ayat, Allah mengingatkan ancaman bagi orang kufur setelah mendapatkan karunia tersebut, bahwa mereka akan tergolong orang-orang yang fasik.
Juga terdapat pada surat al-An'am : 133, yang artinya mengganti
وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْ بَعْدِكُمْ مَا يَشَاءُ كَمَا أَنْشَأَكُمْ مِنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ (133)
133.  Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. jika dia menghendaki niscaya dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana dia Telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain. (al-An`am;133)
Dan pada surat Hud : 57 dengan arti yang sama
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَيْكُمْ وَيَسْتَخْلِفُ رَبِّي قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّونَهُ شَيْئًا إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ (57)
57.  Jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Aku Telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang Aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha pemelihara segala sesuatu. Qs. Hud;57
Dan terakhir, pada surat al-A'raf : 129 dengan arti menjadikan sebagai khalifah
قَالُوا أُوذِينَا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَأْتِيَنَا وَمِنْ بَعْدِ مَا جِئْتَنَا قَالَ عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ (129)
129.  Kaum Musa berkata: "Kami Telah ditindas (oleh Fir'aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang[556]. Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu[557]. al-A`raf;129
D. DIANTARA HADITS YANG MENGGUNAKAN KATA KHALIFAH:
صحيح البخاري ـ حسب ترقيم فتح الباري - (8 / 156)
 عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : مَا اسْتُخْلِفَ خَلِيفَةٌ إِلاَّ لَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْخَيْرِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ.
            Artinya: "dari Abu Sa'id al-Khudri, dari Nabi saw, Beliau bersabda: tidaklah seorang penguasa diganti, kecuali ia memiliki dua niat, niat yang menyuruh dan mendorongnya untuk berbuat kebajikan dan niat yang memerintah dan mendorongnya pada keburukan dan berbuat maksiat kepada Allah saw. (HR. Bukhari 8/156)
صحيح مسلم ـ مشكول وموافق للمطبوع - (8 / 185)
7502 - عَنْ أَبِى سَعِيدٍ وَجَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالاَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَكُونُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ خَلِيفَةٌ يَقْسِمُ الْمَالَ وَلاَ يَعُدُّهُ ».صحيح مسلم ـ مشكول وموافق للمطبوع - (8 / 185)
            Artinya: "dari Abu Sa'id dan Jabir bin Abdullah mereka berkata, Rasulullah saw bersabda : akan datang pada akhir zaman, seorang khalifah yang membagikan harta dan tidak menghitung-hitungnya (bisa juga diartikan mengungkit-ngungkitnya-penj) (HR. Muslim 8/185).
E. KESIMPULAN
            Khalifah merupakan salah satu term umum dalam al-Qur'an untuk mengartikan pemimpin. Secara umum, kata khalifah beserta turunannya menunjukkan manusia yang Allah jadikan pemimpin diatas bumi, menjadi pengatur atas segala yang terdapat dalam bumi.
Secara khusus kata khalifah juga menunjuk para Rasul yang Allah turunkan ke tiap-tiap ummat untuk menyampaikan risalah ketauhidan dan mengatur kehidupan sesuai syariat ilahiyah. Secara lebih khusus lagi, khalifah diartikan sebagai nabi Adam sebagaimana yang tertera dalam surat al-Baqarah : 30. Dalam ayat tersebut bisa juga dimengerti bahwa pada awalnya penghuni bumi atau jika -bisa dikatakan- khalifah Allah sebelum manusia adalah jin. Hal ini sesuai tafsiran al-Jaza'iri mengenai alasan malaikat mengajukan pertanyaan pada Allah yang didasari dari fakta jin sebagai penghuni awal dibumi telah melakukan kemaksiatan dan kerusakan.
Khalifah, tidak hanya menunjukkan atas penguasa yang berjalan pada rel yang baik, tetapi juga penguasa yang ternyata tidak memenuhi amanah ke-khalifah-annya dengan baik. untuk itu Allah mengingatkan khalifah-khalifah yang ditunjuk (utamanya para Rasul) untuk berhukum dengan syariat Allah dan menjauhi nafsu, serta mengambil pelajaran dari umat-umat yang dijadikan khalifah sebelumnya. Dari sini pula maka perbedaan makna khalifah di banding yang lain dari sudut pandang makna pemimpin ialah, bahwa khalifah yang betul-betul disandarkan sebagai khalifatullah tidak serta merta diciptakan oleh Allah, dalam artian terdapat proses-proses yang harus dilalui yang didalamnya harus memperhatikan nasihat, peringatan dan pengalaman dari khalifah-khalifah terdahulu. Hal ini menjadi alasan kata khalifah disandingkan dengan ja'ala (menjadikan) bukan khalaqa (menciptakan)
E. PENUTUP
            Demikianlah makalah ringkas ini dibuat, sebagai tugas mata pelajaran Manajemen Kepemimpinan Islam. Tentunya di dalam tulisan ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, utamanya terhadap hadits-hadits yang memakai kata "khalifah" beserta derivasinya, masih perlu kajian yang lebih intensif lagi.


[1] Aysar at-Tafasir (1/19. Pdf), karangan Abu Bakar al-Jaza'ir
[2] Aysar at-Tafasir (3/399), Abu Bakar al-Jazairi
[3] Aysar at-Tafasir (1/450), Abu Bakar al-Jazairi
[4] Aysar at-Tafasir (2/121), Abu Bakar al-Jazairi
[5] Ibid (2/217)
[6] Ibid (3/345)
[7] Ibid (3/382)

3 komentar:

dakwah!ain! mengatakan...

Keren...
Terus semangat menulis..:D

Qaem Aulassyahied mengatakan...

sip..sip.. sama-sama ^_^

Novita Ratna Dila mengatakan...

Tulisannya bagus....
:)

Poskan Komentar

bagi yang tau kesopanan, silahkan berkomentar

 
;